Tuesday, January 29, 2008

[penulislepas] [Cerpen] Di Rumah Sakit

"Kamu kenapa, Mer?" tanya Dian sambil mendekat ke arahku. Sejenak dia memegang bahuku. Aku diam saja tak memberi respon apa-apa padanya. Aku menatap kosong ke depan. Seakan-akan yang ada di permukaan air danau itu, kosong juga. Tak ada harapan buatku.

"Kamu punya masalah?" tanya Dian lagi. Lagi-lagi aku hanya diam. Kemudian terdengar hembusan napasnya yang panjang. Seakan-akan dia sengaja memperdengarkannya di telingaku kalau dia tidak suka dengan sikapku itu.

Lalu, sama-sama kami berdiam diri dalam beberapa saat. Bedanya, dia bagaikan asyik dengan sebuah buku di tangannya itu. Ya, dia akan selalu membawa buku jika aku mengajaknya ke tempat ini. Hari ini pun, aku memaksanya menemaniku ke sini. Ya, itulah sifatku. Kadang membuat orang lain tersiksa dengan keegoisanku itu.

"Jika kamu pernah dibohongi oleh seseorang, apakah kamu akan mempercayainya kembali?" tanyaku tanpa mengalihkan mataku dari hamparan air danau itu.

Sejenak dia diam tanpa merespon pertanyaanku. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti, Mer?" tanyanya.
"Pernahkah kau membohongi seseorang?" tanyaku lagi.
"Saya amat yakin, semua orang pasti pernah berbohong!" katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu.
"Jika kau dibohongi, adakah kau bisa mempercayai kembali orang itu?" aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Dulu, saya amat membenci orang yang membohongiku, Mer!" katanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah danau itu juga. Tempatnya mataku bertahta dari tadi. "Aku bahkan tidak memberi kesempatan padanya untuk membangun kepercayaan lagi. Aku menjauh darinya, " sambungnya.
"Namun, suatu ketika tanpa saya sengaja, saya telah membohongi seseorang juga, tetapi orang itu tetap saja mempercayaiku. Aku pikir dia tidak tahu kalau aku membohonginya, ternyata jauh-jauh hari, ketika aku berterus-terang kepadanya, dia pun berterus-terang kalau sebenarnya dia tahu tentang pembohonganku itu. Waktu itu, aku malu dan tentu saja menyesal. Karena selama ini, memang saya tidak pernah membohongi siapa pun" , katanya lagi. "Katanya, setiap orang berhak untuk mendapatkan kepercayaan dan kita berkewajiban untuk memberi kepercayaan itu. Selama dia punya keinginan untuk tidak mengulangi kebohongan itu lagi. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Bukankah yang membuat kita lebih mendekati sempurna adalah kesalahan yang pernah kita lakukan? Asalkan kita berusaha untuk memperbaiki kesalahan itu. Asalkan kita tahu taubat yang hakiki....." katanya dengan senyuman.

"Adakah semua orang seperti itu, Dian?" tanyaku tanpa memalingkan muka memandangnya.

Dia hanya diam tak bergeming dengan tatapan yang masih saja di danau itu. Seakan-akan semua pertanyaan yang aku lontarkan ada jawabannya di sana.
"Entahlah!" keluar juga jawabannya.

"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya aneh-aneh seperti itu?" tanyanya.
Sejenak kuhirup dalam-dalam udara bebas yang berkeliaran di situ. Aku ingin menghilangkan segala beban dan sesak dadaku yang kurasakan dari tadi. Ya, dadaku sesak dengan beribu-ribu kilo penyesalan. Aku benci dengan kesesakan itu. Aku benci dengan penyebab dengan kesesakan itu. Ya, aku benci dengan diriku sendiri. Karena dirikulah yang membawa kesesakan pada dadaku sendiri. Ternyata, beginilah rupanya kalau terlanjur berbuat salah.

"Aku telah membohonginya, Dian! Aku telah melakukan kesalahan yang besar. Aku telah membohongi orang yang aku amat sayangi. Aku telah membohongi wanita yang telah berbuat baik kepadaku. Aku pikir, itu bisa dianggap sebuah permainan. Sesuatu yang mengundang tawa. Ternyata, aku salah besar. Ya, aku tahu. Selama ini, aku tidak pernah membohongi siapa pun. Selama ini, aku adalah anti dibohongi. Selama ini, aku amat membenci orang yang membohongiku. Tetapi, sekarang.... " akhirnya air bening di pipiku mengalir dengan perlahannya menelusuri liku-liku garis hidungku.

Dian hanya menatapku dengan wajah keheranan.
"Ya, aku tahu, aku melakukannya dengan menganggapnya itu canda. Aku tahu itu. Bahkan, aku sudah meminta maaf. Dan, dia mengatakan kalau dia telah memaafkan aku. Aku juga tahu, kalau dia adalah orang baik, pemaaf dan manusia yang patut diteladani. Bahkan, silahturahmi kami pun masih berjalan. Tetapi, kenapa hati ini masih dihantui perasaan bersalah? Kenapa masih saja aku berpkir kalau aku telah kehilangan dia? " kubiarkan air bening itu terus mengalir. "Aku tahu, selama ini aku belum pantas untuk berada di sisinya. Aku tahu, kalau dunia kami amat berjauhan. Dia terlalu tinggi untuk aku lihat bagi kepalaku yang rendah ini. Aku tahu, itu. Entah mengapa aku begitu terlalu berani menganggap kalau aku sudah bisa hidup di sampingnya. Sudah bisa tertawa bersama. Entah mengapa aku begitu mudah bermimpi?...."

Dian hanya diam seribu bahasa. Seakan-akan sengaja memberiku kesempatan untuk mengeluarkan semua isi hatiku.
"Ternyata, melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu, ternyata amat berat resikonya ya?" tanyaku dengan senyuman lucu. Lalu, menghapus air mataku.

Kupandangi lagi danau itu. "Masihkah bisa aku mengembalikkan wajahku yang dulu? Wajah yang pertama kali dikenalinya? Ah, pasti itu hanyalah khayalan semata. Pasti wajahku sudah cacat di matanya. Cacat yang tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Bukankah begitu, Dian?" tanyaku pada Dian. Kali ini, aku pandangi mukanya yang juga memandang mataku. "Iya, kan?" tanyaku lagi.

Dian mengalihkan pandangannya ke depan. Ada butir bening di matanya mengambang. Aku tahu perasaan sahabatku itu amat cepat tersentuh.
"Tuhan saja Maha Pemaaf, Mer, apalagi dia. Tuhan saja Maha mempercayai hamba-Nya, apalagi dia. Tuhan saja senantiasa menerima siapa saja hamba-Nya yang datang walau dalam keadaan apa jua, apalagi dia. Percayalah! Kau masih Mer yang dulu di matanya. Seperti aku menganggapmu Mer yang tidak akan pernah berubah. Karena itulah hidup. Di situlah kita harus mengambil hikmah atas semua ini. Ini pelajaran buat kamu agar kamu juga berusaha untuk membuka pintu kepercayaan buat orang yang pernah membohongimu, dulu. Lihatlah, betapa adilnya dunia ini, bukan?" tanyanya.

"Adil?" terasa lucu kata-kata itu di telingaku.
"Iya", jawabnya untuk meyakinkan aku bahwa dia serius atas kata-katanya. "Bukankah tidak ada yang baik kalau tidak ada yang buruk? Bukankah tidak ada yang mulus kalau tidak ada yang kasar? Bukankah tidak ada yang kaya kalau tidak ada yang miskin? Bukankah tidak ada hitam kalau tidak ada putih? Bukankah tidak ada tinggi kalau tidak ada rendah? Begitu seterusnya. Begitu juga dengan kesalahan dan kemaafan. Tidak pernah ada kata maaf kalau semua manusia tidak pernah berbuat kesalahan. Iya, kan?"

Sejenak aku tertawa lepas. Walau air mataku masih saja mengalir. Ah, begitu munafiknya diriku ini. Menangis sudah, masih mau tertawa. Adakah aku manusia normal?

Tak terasa, waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa menahannya. Seperti hatiku yang masih saja dipenuhi rasa gundah dan penyesalan. Ya, akan kubawa penyesalan itu ke mana saja kakiku melangkah. "Maafkan aku, wahai orang-orang yang pernah membohongiku! Ya, maafkanlah jika aku pernah menutup pintu kepercayaan untukmu. Dan, wahai orang yang pernah aku bohongi! Maafkanlah, aku! Aku menyesal atas semua itu. Aku baru sadar, kalau beginilah rasanya jika melakukan kesalahan. Terimakasih atas kesadaran yang kau berikan padaku. Aku tidak akan memintamu untuk memasang wajahku yang dulu di matamu. Aku tidak akan memintanya karena aku tahu, aku sudah tak berhak tentang itu. Cuma, satu yang ingin kutanyakan padamu, masihkah ada pintu kepercayaan untukku di matamu atau di hatimu?"

Kuhembuskan napas pelan-pelan. Kupandangi hamparan permukaan danau yang sudah mulai diterpa cahaya senja. Diam-diam kuraih sebuah kertas dan pulpen di sampingku. Diam-diam pula, lahir sebuah puisi dari jiwa penyesalan yang amat dalam.


Di Rumah Sakit

Di sini, di rumah sakit ini,
kau pernah meminta perpisahan.
"Jangan pernah mencintaiku!
Tidakkah kau takut aku meninggalkanmu
karena kanker di dadaku?" katamu padaku.

Di sini pula, di rumah sakit ini juga.
Aku pernah meminta perpisahan.
"Aku tidak takut atas kepergianmu.
Yang kutakutkan jika aku yang meninggalkanmu," kataku
saat ada berita kesembuhan kankermu.

Kini, di rumah sakit ini lagi.
Aku terbaring mengenang kenangan di sini.
Di saat aku dan engaku meminta perpisahan.
Diri ini, mengharap engkau kembali lagi di sin.
Walau aku tahu, kau telah pergi bukan untuk kembali.

Biarkanlah aku di sini, tetap di sini,
di rumah sakit ini, untuk mencintaimu,
mencintaimu dan tetap mencintaimu
di sini, di rumah sakit ini, di dalam puisi ini.
Dan, bukan hanya saat ini.

Terimakasih sahabat, engkau telah memberiku pengertian tentang sebuah kesalahan. Sekali lagi terimakasih. Ucapku dalam hati dengan dada yang masih sesak.

*PS: Terimakasih buat bidadari yang telah menginspirasi saya tentang tulisan ini. :)
http://alinasheart.multiply.com
http://alinasheart.rezaervani.com




Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Sekolah-Menulis Online Resmi Dibuka Lagi
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================

=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================

Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================

Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================

Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253

=============================================

Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================


Recent Activity
Visit Your Group
Only on Yahoo!

World of Star Wars

Meet fans, watch

videos & more.

Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

.

__,_._,___