waduh, sayang banget tuh, sempat dikopi ke CD atau format mp3 gak ya? kalo
tau sih pengen juga mungutnya...
kalo masih ada koleksinya biar saya tampung deh. serius...
sekedar intermezzo, memang yang namanya opini, apakah itu baik maupun buruk,
begitu memengaruhi pikiran dan pandangan kita. seperti kasus Suharto, betul
kata mas, kita tidak pernah langsung menyaksikan beliau korupsi, kita
mungkin juga belum pernah mengalami langsung disiksa, seperti para korban
kejahatan beliau. bahkan kitapun mungkin belum pernah menerima beasiswa
Supersemar, atau menikmati langsung padi hasil klompencapir. tetapi itulah
opini yang berkembang. bagi yang merasakan langsung akibat buruknya,
langsung saja berteriak Suharto diktator, penjahat perang, dsb. tapi bagi
yang menikmati langsung kebaikannya, semua berteriak untuk memaafkan
Suharto, lalu menceritakan berbagai kebaikan beliau.
saya sendiri sih rasanya netral2 aja, soale belum pernah merasakan langsung
siksaan aparat binaan Suharto, dan juga belum pernah merasakan beasiswa
Supersemar. paling2 yang saya rasakan adalah kedamaian hidup dan lancarnya
transportasi terutama waktu mudik pulang kampung, he3x....
salam kenal Mas, selamat berjuang, semoga sukses dan memperoleh ganti yang
lebih baik. Amiiin....
wassalam,
Diaz Rossano
Alumni CPNS, pengamat di milis ini, he3x....
On 1/30/08, Anwar Holid <wartax@yahoo.
>
> [halaman ganjil]
>
> Selamat Jalan, Kaset dan Mantan Presiden
> ------------
> >> Anwar Holid
>
> Pada hari Senin, 28 Januari 2008 ketika semua koran dan televisi
> menyatakan selamat jalan kepada pak Harto, aku mengucapkan selamat
> jalan kepada 36 kaset favorit yang aku jual ke toko musik second.
> Honor-honor yang aku nanti datang dari beberapa pihak ternyata belum
> ngalir juga, sementara kami sekeluarga sudah kehabisan beras, harus
> beli sayur mayur, dan bayar pembantu setiap Senin. Di antara koleksi
> itu ialah sejumlah album Peter Gabriel, Pink Floyd, Joe Satriani, The
> Cult, Steve Vai, Counting Crows, Matchbox Twenty, Fates Warning,
> Lokua Kanza, dan album musik klasik: Wagner, Sibelius, dan lagu-lagu
> adagio aransemen Herbert von Karajan. Uang yang aku dapat memang di
> bawah harapan (sudah aku duga sejak awal), tapi alhamdulillah
> setidaknya aku bisa beli beras, biskuit, dan di hari-hari ke depan
> kami bisa makan dengan pantas.
>
> Aku beli koran murah (Rp.1.000,-)
> informasi tentang kematian pak Harto. Tertulis headline: The End:
> 13.10 WIB. Aku membatin, ingat ungkapan sebuah lagi The Doors: This
> the end, my only friend. The end. Aku rasanya juga ingat sebuah lagu
> tentang perpisahan, tapi entah apa itu. Atau sebenarnya aku hendak
> bilang begini: Good bye Mr. Former President and my cassettes---
> sambil teringat sebuah judul cerpen Gabriel García Márquez. Kematian
> pak Harto hanya berdampak dua hal saja buatku, yaitu (1) berhasil
> membuat aku beli koran, dan (2) bisa menggerakkan aku menulis esai.
> Kematian pak Harto kalah menghenyakkan dibandingkan berita kematian
> Freddie Mercury yang dulu aku dengar via TVRI malam-malam. Ini
> menyiratkan betapa aku memang boleh dibilang bersih dari pengaruh
> maupun ketertarikan terhadap negara, presiden, dan politik.
>
> Berita kematian pak Harto pertama kali aku simak pada hari Minggu, 27
> Januari 2007, kira-kira jam 14.30-an, waktu kami sekeluarga makan
> siang di warung makan serba ada yang kurang enak, sehabis menemani
> Ilalang dapat tambahan les main perkusi di Jendela Ide. "Wah... pak
> Harto sudah mati tuh," kataku, langsung terpaku pada tv yang juga
> tengah dikerubungi semua pengunjung dan pegawai warung. Waktu itu
> siaran sedang meliput sekitar rumah beliau di jalan Cendana (entah di
> mana letak persisnya) yang ricuh oleh pengunjung dan petugas. Setelah
> beberapa menit perhatian ke tv, aku mengasuh Shanti biar istriku bisa
> makan dengan tenang. Setelah itu aku makan nasi + ayam goreng dengan
> sambal terlalu pedas. Samar-samar terdengar berita kematian dia terus
> disiarkan tv sampai kami pulang. Sehabis magrib, di sela-sela ngobrol
> segala hal, istriku tanya, "Kamu percaya nggak sih kalau Soeharto itu
> korupsi?" Aku rada bingung dengan pertanyaan itu, apa juntrungannya
> dengan kami sekeluarga. Rupanya dia ingat laporan khusus majalah
> Tempo tentang hal itu. "Kalau aku baca dari media, berdasar pada
> investigasi mereka, aku percaya dia korupsi," kataku. "Tapi kalau
> ditanya apa buktinya dan siapa saksinya, aku nggak tahu. Aku nggak
> pernah lihat dia melakukannya.
> menyergah, "Eh, apa sih hubungannya ini dengan kita semua?" Rasanya
> lebih suka kalau kami beralih ke topik lain. Malamnya, aku tegang
> menyaksikan pertandingan penyisihan Piala FA antara Manchester United
> vs Tottenham Hotspurs; 3-1 buat MU.
>
> Bagi orang Indonesia kelahiran 1973-an seperti aku, Soeharto jelas
> bakal tertatah kuat dalam memori kami. Ketika tumbuh, langit kami
> cuma satu, penuh berisi Soeharto. Dia Bapak Pembangunan, perancang
> Pelita, yang sudah jalan memasuki periode ke-5, sudah mencapai
> tahap 'tinggal landas', namun akhirnya ternyata kandas. Setelah itu
> cuaca langit kami berganti-ganti begitu drastik, mulai dari Habibie,
> Gus Dur, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang
> di foto Tribun Jabar terlihat memberi hormat dengan gaya resmi di
> depan keranda jenazah pak Soeharto. Wah... sinismeku langsung
> mendidih. Bagaimana mungkin presiden seperti itu, yang jelas
> kelihatan inferior bahkan di depan mayat seniornya, bakal punya
> iktikad mengadili kontroversi seputar status hukum Soeharto. Aku
> yakin harapan M. Fadjroel Rachman dan kawan-kawan agar keadilan tetap
> hidup bakal seperti pepesan kosong.
>
> Aku ingat, dulu waktu SD kami bahkan sampai hapal semua menteri yang
> jadi pembantu Soeharto, habis bakal masuk ulangan. Apa nggak gila
> tuh? Kami ingat TVRI menyiarkan laporan khusus berisi kunjungan
> Soeharto ke daerah atau ladang pertanian dan sawah, Kelompencapir
> (yang namanya selalu dikritik oleh Pusat Bahasa), atau sidang-sidang
> beliau dengan para menteri. Baru pada 1998 era itu tamat, dan siapa
> sangka, jelas di luar dugaanku, betapa begitu lama beliau mewarnai
> sebuah kanvas bernama Indonesia, sampai akhirnya boyak-boyak,
> sebagian rombeng dan kusam di sana-sini. Sisanya ialah
> sekarang; 'pembangunan' jelas ada jejaknya, dan berlanjut, dengan
> pola mirip... mungkin dikerjakan sembarangan, karena entah kenapa
> mudah sekali memicu prasangka dan sinisme. Sebagian orang yang
> bertentangan dengan Soeharto atau pihak yang tak punya kaitan dengan
> dia berani lantang bilang bahwa dia diktator, misalnya para
> demonstran pro demokrasi atau media massa seperti CNN dan Time. Aku
> sendiri takut dan tak punya dasar untuk bilang bahwa dia seorang
> diktator. Faktanya ialah dia mantan presiden Indonesia, negeri tempat
> aku terdaftar sebagai warga negara. Dulu, aku sesekali ikut demo
> bareng teman menuntut keadilan atau keterbukaan; tapi keadilan harus
> diupayakan sendiri dan keterbukaan ternyata datang sendiri. Yang
> paling mengasyikkan ialah jadi bagian massa waktu kami demo besar-
> besaran selama masa awal-awal menegakkan Reformasi di Gasibu
> (sebagian kawanku demo di gedung MPR/DPR), sampai akhirnya rezim dia
> tumbang, dan sejak itu reputasi pak Harto beserta kroni dan
> keluarganya melorot ke kubang terendah dan penuh masalah, namun tetap
> saja tetap menarik diberitakan. Yang paling akhir tentu saja skandal
> yang muncul dari para anak-anaknya, rebutan harta dan kuasa antara
> istri pertama dan madu salah satu anaknya, perempuan yang sampai rela-
> rela ngaku dihamili anaknya---entah dengan motif apa, atau artis yang
> kawin dengan cucunya. Wah... sebenarnya aku cukup sibuk dengan diri
> sendiri, bertahan hidup atau meningkatkan standar, dan tak peduli
> dengan peristiwa terkait Soeharto... toh nyatanya aku selalu samar-
> samar mendengar atau mendadak punya kesempatan baca informasi tentang
> mereka. Tadi saja, waktu menuju toko kaset bekas itu, tiga gadis
> mahasiswa aku dengar bicara, "Kamu sedih nggak pak Harto
> meninggal?" "Enggak, lebih sedih waktu kakek gue meninggal
> tuch." "Iyalah, coba kamu bakal dapat warisannya. Pasti sedih." Salah
> satu gadis itu langsung menyergah, "Dapat warisan mah senang,
> bukannya sedih..." Serentak mereka tertawa. "Aku mah pengen lihat
> upacara pemakamannya euy. Yang pakai tembak-tembakan itu." (Namanya
> salvo, neng, kataku dalam hati.)
>
> Aku bukan PNS dan ketertarikan atau kepedulianku pada negara boleh
> dibilang nol. Aku lebih pusing memikirkan bagaimana meningkatkan
> karir dan pendapatan di tahun ini daripada sibuk mendengar analisis
> politik bila The Smiling General (ini kayaknya bukan oksimoron)
> meninggal dunia dan mewariskan banyak buntut persoalan. Aku lebih
> merasa dekat dengan kaset-kasetku daripada dengan pria berusia 87
> tahun itu, meski dia pernah jadi presidenku. Begitu kondisi dia
> kritis di rumah sakit minggu-minggu lalu, aku dengar analisis politik
> bahwa Indonesia bisa-bisa bakal makar begitu dia meninggal. Wah...
> aku malas dengar gosip keterlaluan itu. Satu-satunya berita yang aku
> sukai ialah analisis ini: Bila status hukum dia ditetapkan salah,
> maka itu kesempatan menyeret persoalan hukum yang dilakukan keluarga,
> kroni, dan orang-orang sekelilingnya akan terbuka. Keadilan jadi
> ditegakkan. Frasa yang menarik; "Keadilan jadi ditegakkan." Keadilan
> seperti apa? Apa bakal berdampak buat aku? Wah... aku ragu. Apa
> bila "Keadilan jadi ditegakkan" aku bisa optimistik tak perlu jual
> kaset favorit buat beli beras? Wah Wartax, kamu jadi kekanak-kanakan!
> Mungkin ini akibat aku buta politik dan nggak kritis sejak remaja.
> Lebih baik aku menghindari persoalan yang aku sendiri nggak tahu.
> Biarkan itu jadi urusan orang yang memperkarakan dia, terutama bekas
> lawan politik dia yang masih hidup dan bersemangat menyeret dia ke
> pengadilan dan ingin agar harta hasil korupsi itu dikembalikan ke
> negara. Aku jelas lebih suka andai tetap punya kaset dan kondisi
> keuanganku baik-baik saja. Tapi faktanya aku harus kehilangan mereka.
>
> Aku sangat setia pada kaset-kaset itu. Aku rawat dengan baik, menjaga
> jangan sampai kusut, tetap sempurna bila disetel, meski itu semua
> gagal menaikkan harga jual. Aku selalu suka melihat-lihat sleeve,
> membaca-baca segala info yang ada di sana. Mereka berisi pemusik yang
> aku sukai karya-karyanya. Kini kotak kasetku berisi pemusik yang jauh
> kurang populer dibanding album yang aku jual sekarang. Di sana masih
> ada Chroma, Jaduk Ferianto, Bidjeh, Ravi Shankar, Youssou N'Dour,
> Sinead O'Connor, The Stage Bus... Entah berapa lama aku akan tetap
> bisa bertahan dengan mereka; entah berapa harga jual mereka di toko
> kaset bekas, lepas dari betapapun mereka bagus atau legendaris. Di
> tangan penjual loak, semua barang pasti direndah-rendahkan. Melankoli
> dan legenda cuma jadi cerita. Kalah oleh kebutuhan akan uang.
>
> Aku rela dan senang-senang saja kehilangan kaset itu, akhirnya.
> Apalagi dari situ aku merasa memberi bakti pada keluarga. Aku
> kehilangan mereka tepat di saatnya. Sudah waktunya. Bisa jadi begitu
> juga Indonesia terhadap pak Harto. Dia sudah tua dan sakit-sakitan.
> Wajar dia meninggal dunia. Jelas keterlaluan berharap dia bakal sehat
> wal afiat seperti sedia kala ketika masa jaya atau bisa bertahan
> lebih dari lima belas tahun ke depan. Nyawa bisa dicabut izin
> penggunannya kapan saja, datang begitu saja tanpa perlu perjanjian
> lebih dulu. Sebagian orang, banyak orang, terisak-isak oleh kepergian
> beliau; sebagian orang mungkin bingung apalagi agenda hukum yang bisa
> dijalankan; orang seperti aku, yang tak terkait dengan semua itu,
> heran, kenapa mereka semua heboh dengan kematian satu jiwa. Mendadak
> aku ingat dulu ada orang di Jakarta yang menyeret-nyeret mayat karena
> tak punya biaya kubur. Kematian seorang mantan kepala negara sudah
> disiapkan dengan sempurna, mulai dari kepergian dan upacara. Dia
> merepotkan banyak sekali orang; dan orang entah rela, pura-pura, atau
> terpaksa dan karena tata krama, hirau dengan kepergiannya. Kematian
> ini lebih heboh dan seru dibandingkan delapan besar Liga Indonesia
> yang ricuh. Apa ini tanda kehebatan seseorang, bahkan dalam
> kematiannya pun dia bikin guncang, tetap dihormati banyak sekali
> orang, dihadiri sosialita paling terkemuka? Wah, entah ya.
>
> Dari dulu aku membayangkan kematian yang sederhana. Aku ingin nanti
> nisanku tak ditandai apa-apa, biar lama-lama hilang dan rata dengan
> tanah. Aku ingat ayahku membiarkan patok tanda kuburan kakakku lama-
> lama hancur oleh waktu dan sebagian habis dimakan rayap. Dibersihkan
> bila berziarah saja. Terakhir kali kami ke sana, gundukan tanahnya
> sudah nyaris rata. Aku agak yakin sekarang tentu sudah rata. Aku
> sulit membayangkan ada semacam kompleks istana untuk mayat-mayat yang
> sudah selesai berurusan dengan dunia. Untuk apa ya semua itu
> dibangun?
>
> Hari ini aku kehilangan kaset; esok hari siap-siap aku kehilangan
> nyawa. Dalam beberapa hari ke depan aku masih bisa menyelamatkan
> keluarga; pasti suatu hari nanti aku yang malah repot menyelamatkan
> jiwa sendiri.[]0:
>
> ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku
> Bandung.
>
> KONTAK: 08156140621 - (022) 2037348 | wartax@yahoo.
> No. 26 B, Bandung 40141
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Earn your degree in as few as 2 years - Advance your career with an AS, BS, MS degree - College-Finder.net.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___