Saya tertarik membaca tulisan anda. Kenapa? Ada kata :GOLPUT" nya. Terus terang, saya benar-benar ingin jadi golput lantaran, apapun yang kita pilih, baik Presiden sampai lembaga legislatif dan eksekutif tidak memberikan akibat apapun terutama perbaikan bangsa ke depan. Apalagi, pemerintah dan legislatif eksekutif, tidak punya sense of crisis. Jadi apapun yang kita pilih, tak memberi pengaruh apapun bukan??????
saya bukan siapa-siapa <sayawahyono@
Sekitar tahun 1985-1986 orangtua saya berangkat ke Jakarta untuk
memenuhi undangan khusus yang mewakili kabupaten Bangka (saat itu
masih bergabung dengan Sumatera Selatan). Beliau berdua memakai baju
adat Melayu Bangka. Dalam suatu acara, orangtua saya bersalaman
dengan Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Saat-saat salaman tersebut
diabadikan oleh fotografer situasional (berprofesi sebagai tukang
foto keliling).
Tahun-tahun itu merupakan masa keemasan ORBA, dan di daerah kami
Soeharto pun menjadi ikon terkemuka, apalagi tahun 1971 Soeharto-
Tien melawat ke Bangka, lantas seorang teman saya lahir dan diberi
nama Tien Suharti. Di kampung (kampung kami berada di pinggir kota
Sungailiat, nun di seberang Ibukota Negara) keluarga kami bukan
keluarga golongan sosial eksekutif bahkan cenderung naïf-primitif.
Bertemu dengan Soeharto-Tien, bersalaman dan berfoto bersama adalah
sebuah kebanggaan luar biasa. Barangkali pada masa itu belum ada
satu pun orang kampung kami yang bisa bersalaman dan berfoto bersama
dengan Pak Presiden dan Bu Presiden. Mungkin pula orang-orang di
kampung kami berpikir, hanya orang-orang tertentu yang bisa
bersalaman dan berfoto bersama presiden.
Maka kesempatan bisa bertemu langsung, bersalaman hingga difoto
dalam jarak relatif dekat itu tentu saja menjadi kebanggaan bagi
kami serta keluarga besar kami di kampung, terlebih saya sama sekali
belum peduli dengan situasi bangsa-negara dalam masalah korupsi,
kolusi, dan nepotisme, apalagi di kemudian tahun (27 Januari 2008)
Saut Situmorang menyebutnya sebagai TUKANG JAGAL NASIONAL. Ibu saya
pun dengan bangga bercerita tentang peristiwa itu kepada keluarga
besar ibu saya di Jawa karena memang hal semacam itu belum pernah
dialami oleh saudara-saudara kandung ibu saya. Sementara ayah saya
biasa-biasa saja. Mungkin karena ayah saya seorang pengagum Pemimpin
Besar Revolusi Soekarno alias Soekarnois (di perpustakaan keluarga
kami terdapat beberapa buku karangan Bung Karno yang diterbitkan
sekitar tahun 1950-an serta poster besar bergambar sosok Bung
Karno). Namun selama kurun waktu 1985-2007 saya sendiri tidak pernah
bercerita kepada orang-orang mengenai peristiwa itu kecuali
sekarang, awal tahun 2008, melalui tulisan ini dalam rangka
kewafatan Soeharto, 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB.
Sedikit keluar cerita itu, tahun 2000 saya pun pernah mendapat
undangan khusus sebagai pembicara pada suatu seminar nasional di
Jakarta, dan berkesempatan untuk bertemu langsung dengan ibu wakil
presiden yang ketika itu namanya masih sangat semerbak mewangi,
Megawati Soekarnoputri sebab nama beliau menjadi ikon penting
lantaran Peristiwa 27 Juli 1996 dan rekayasa politik PEMILU 1999.
Tetapi bagi saya pribadi, bersalaman dan berfoto berdua dengan tokoh
terkemuka di Indonesia bukan suatu kebanggaan yang luar biasa karena
saya menganggap mereka juga manusia biasa seperti saya. Hanya nasib
yang membedakan struktur sosial, baik dalam lingkup regional maupun
nasional.
Kembali ke cerita, ada satu foto yang sangat dibanggakan ibu saya,
yaitu sewaktu ibu saya bersalaman dengan Ibu Tien Soeharto. Foto
berukuran 10 R dalam jarak dekat alias close up. Di situ sangat
jelas terlihat garis-garis kulit wajah ketika ibu dan Bu Tien
Soeharto bersalaman dan berbalas senyuman. Entah kenapa, foto
tersebut tidak dipigura sehingga tidak terpajang di ruang tamu rumah
kami. Dan sejak tahun 2005, sewaktu saya mudik untuk bekerja di
Bangka, saya tidak tahu bagaimana kondisi foto tersebut dan di mana
sekarang keberadaannya. Barangkali karena saya, sebagai kader Golput
abadi, kurang menyukai sebuah kultus pribadi terhadap tokoh apa-mana
pun. Mungkin juga karena saya bukan siapa-siapa, dan tidak memiliki
kebanggaan apa-apa (tidak memiliki apa-apa yang patut saya
kategorikan sebagai suatu kebanggaan pribadi saya).
*******
Rawabuaya, 27 Januari 2008
------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Earn your degree in as few as 2 years - Advance your career with an AS, BS, MS degree - College-Finder.net.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___