Sebuah pengalaman yang tak mungkin saya lupakan!!!!
Ketika suatu saat saya mengajar satu kelompok siswa SMK yang berpraktik di bengkel, waktu itu jam sekitar jam 09.30. Seperti biasa saya berkeliling mengecek hasil praktik anak2 dengan mengelilingi bengkel, ketika saya melihat empat anak sedang serius memperhatikan sesuatu yang sedang di putar oleh salah seorang dari mereka. Karena penasaran saya mendekat dan mulai terdengar suara yang aneh, maka dengan hati2 saya kemudian mengecek apa yang sedang mereka kerjakan.
Dan masyaAllah, ternyata anak-anak yang masih bau kencur itu sedang menonton adegan mesum lewat sebuah layar ponsel. Karena sedang asyik mereka bahkan lupa akan sekelilingnya, tidak pula menyadari ada yang mendekat.
Sepotong cerita di atas bukan mengada-ada, tapi benar2 terjadi. Ternyata kemajuan teknologi serta harga yang murah dan berlimpahnya produk menjadikan banyak hal yang seharusnya tidak layak dan tabu kian samar. Ketika saya masih menjadi pelajar saya tidak pernah berpikiran untuk menonton hal tabu seperti “sebagian pelajar” tersebut lakukan. Hal tersebet saya sadari mungkin dikarenakan pada waktu itu memang teknologi audio video masih sangat jarang. Untuk menonton hiburan dalam bentuk audio-video harus memiliki pemutar kaset yang harganya cukup mahal. Pun demikian bendanya juga tidak simpel.
Kalau kita bandingkan dengan saat ini, betapa banyak ponsel dengan bentuk yang tipis dan simpel mampu mensuport berbagai jenis file (yang juga tercipta oleh kemajuan jaman era digital) jenis audio-video. Belum lagi ada MP-4, MP-5. DiViCam, dll. yang semuanya itu selain fleksibel juga murah harganya.
Proteksi pemerintah terhadap pornografi pun terasa sangat kurang. Betapa tidak kurang dari 9,1 milyar situs porno yang ada di internet dapat kita akses secara bebas. Sebagian dari jumlah itu menyediakan layanan download gratis bagi anggotanya atau bahkan hanya sekedar pengunjungnya. Film yang mereka sediakan juga beragam dari yang mulai cerita porno, gambar porno, sampai film2 yang bahkan kapasitasnya cukup besar.
Sebagai pendidik kita tentunya cukup prihatin akan masa depan generazsi penerus kita. Budaya ketimuran yang jauh dari budaya pornografi telah mulai luntur, kalo kita tidak mau mengatakan hampir hilang. Belum lagi hal ini diperparah oleh banyaknya peredaran film mesum yang aktornya “katanya” juga anak negeri ini. Bahkan yang seperti inilah yang menjadi buruan para penikmat film porno, film mesum “made in” dalam negeri.
Rasa2nya kita memang telah hidup dalam kepungan pornografi. Bagaimana kia bisa lepas dari hal ini. Setidaknya mari kita sadari bahwa setidak2nya kita jangan sampai menjadi pupuk penyubur bagi tumbuh kembangnya pornografi.