Nama : Adhi Purwono
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Malam Purba
Kau berada dimana?
Di jantung kemarahan seseorang.
Seseorang yang bagaimana maksud kamu?
Seseorang yang menyandu. Seolah-olah candu adalah rokoknya. Morfinnya. Dan cerobong azab-nya.
Nelson memperhatikan seberkas koran bekas yang menyelinap di balik sofa duduk ruangan tersebut. Diperhatikannya lekat-lekat bahwa koran itu memberitakan tentang pembunuhannya yang tentu saja dapat dikatakan berhasil mengingat sampai saat ini dia masih bisa berkeliaran di paviliun 4. Semua rencananya telah berhasil dilaksanakan dengan runtut dan tanpa celah untuk diketahui sama-sekali. Bahkan teman-temannya yang ikut terlibat dalam rencana-rencana rahasia tersebut telah terbujur rapi, tentu gosong
, di pemakaman umum Sidoarjo. Tak ada yang bakal menduga dialah dalang dari semua perbuatan keji tersebut. Membunuh 500 orang dan semua orang mengira itu adalah kecelakaan gas. Lima-ratus-orang termasuk teman-temannya sendiri tersebut.
Motif pembunuhan? Nah di situlah letak kelemahan polisi-polisi jaman sekarang yang semakin terikat dengan sebab-akibat. Membunuh bagi Nelson tak perlu motif. Sekalipun itu cuma motif bersenang-senang seperti para psikopat-pun tak ada dalam dirinya. Dia hanya ingin membunuh. Itu saja kalau keinginannya dapat disebut sebagai motif. Maka dari itu rencana-rencananya pun selalu dilaksanakan dengan sempurna karena tiadanya godaan motif. Dan polisipun sangat kesulitan mencari penyebab pembunuhan-pembunuh
pembunuhan-pembunuh
Satu pembunuhan pendahuluan.
Harus dilaksanakan dengan kilat.
Malam mengejang dengan senja yang tampak malu-malu menerbit di ufuk barat. Keinginan membunuh sudah padam di diri Nelson. Bagus! Itu yang justru ditunggunya. Pembunuhan tak akan sempurna kalau masih tersisa keinginan yang dapat membuat segalanya berantakan. Sasaran berada pada 3 blok jauhnya dari perkomplekan sepi nan asri ini. Mengeruyak beberapa pohon pakis, Nelson maju beberapa langkah. Bukan ke arah sasaran, melainkan praktis ke arah yang berlawanan. Dirinya ingin memastikan dahulu bau sasarannya sudah tepat sesuai dengan perkiraan belum. Nelson mengambil sehelai daun muda, menyejajarkannya dengan cahaya rembulan yang mulai lembut mendayung ke langit-langit. Jelas terlihat dari perspektif tiga dimensi, rumah sasarannya tidak cocok untuk serangan dari pinggir. Nelson sudah mengetahuinya dari tadi tapi perasaannya terus mengatakan hal-hal yang lain.
'Daun ini berbuku empat', pikirnya.
'Buku-buku di lemariku berhelai empat batasan', sebuah teka-teki menghampiri benak Nelson.
Meremas daun itu menjadi kucekan nan kumel, akhirnya Nelson memutuskan untuk maju kali ini searah dengan sasaran. Tiga blok tidaklah jauh karena komplek asri itu berjalan kecil-kecil.
Tak ada satpam penjaga.
Tak adakah yang bisa dibunuh?
Gonggongan anjing pun tak ada.
Nelson membuka jendela tak terkunci di kamar samping dan langsung memanjat ke dalam kamar tersebut.
Orang itu tidur. Tapi bukan target yang harus dibunuh.
Membunuhnya hanya menambah kekacauan angka. Enam pembunuhan bukanlah bilangan yang baik untuk menarik polisi wanita tersebut.
Nelson memutuskan melakukan percobaan kecil. Dia menggusah orang itu sampai jatuh terlentang. Orang itu membuka matanya tapi langsung disambit dengan ganggang sapu sampai-sampai tubuhnya terjelengkang. Sebuah pikiran sadistik menyenangi dirinya, namun Nelson merasa perlu tidak melakukannya.
'Pingsan lebih dari cukup', pikirnya.
'Mencari target jauh lebih penting daripada permainan manapun', Nelson mengakuinya.
Tidak perlu membuat suara bisik-bisik karena Nelson sudah yakin dari tadi isi rumah ini hanya ada satu orang tadi yang dipukulnya dengan ganggang sapu. Nelson heran mendapati rumah itu memiliki perapian. Dengan percikan-percikan kayu terbakar halus memerikan bau khas yang ternyata disenanginya. Target pertamanya ternyata jauh lebih mudah. Membunuh dirinya sendiri dengan cara membakar diri dengan api perapian yang baunya enak tersebut. Lalu? Pembunuhan dua, tiga dan empat, tentu dilakukan di alam baka. Nelson memang belum tahu alam baka itu seperti apa. Tapi dia masih yakin di sana dia masih sanggup untuk membunuh.
Sebelum sempat, polisi sudah datang.
Bukan polisi wanita.
Tidak pula bersenjata. Mereka hanya berpentungan.
Bosan.
Di tengah jantung kegilaan dan kegairahan
,
Jakarta 7 Februari 2008
Penulis.
------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___