JALAN ITU MASIH BASAH, WIN
FIyan Arjun
http://sebuahrisala
ID YM : paman _sam2
Baru kemarin kita bersama-sama bercerita tentang impian indah kita. Tentang impian kita masing-masing. Kau mengimpikan indahnya sebuah keluarga bahagia dan juga menjadi pengusaha yang sukses. Lain hal denganku, aku malah tak ingin menjadi apa-apa. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan menjadi orang yang bermanfaat untuk semua orang. Itulah impian dan sekaligus keinginanku saat ini, saat kau menanyakan apa impianku dalam hidup ini. Itulah jawabanku saat itu. Saat kita masih bersama-sama.
Sebenarnya impianku yang mendalam adalah menjadi seorang penulis. Tapi niat itu aku pendam jauh-jauh. Karena apa? Aku takut dengan karya-karya yang telah aku hasilkan nanti malah perlahan-lahan membunuhku. Halnya seperti para penulis terdahulu--sebelum aku--yang sering kali kubaca di surat kabar lainnya. Mati secara sangat tragis sekaligus mengerikan disaat masa jayanya berkibar. Itulah yang aku tak inginkan. Lebih baik aku menjadi diriku sendiri itu lebih baik.
Itu dulu disaat kita masih bersama-sama bercerita tentang impian indah kita masing-masing di bawah pohon yang di tepinya ada sebuah jalan yang masih basah. Basah dikarenakan tertimpa hujan semalaman yang turun sangat lebat saat itu. Entah kenapa kenangan itu masih saja terekam dalam benakku hingga sampai hari ini. Mungkinkah aku harus mengusir kenangan itu? Entahlah. Padahal kau begitu baik denganku. Tapi apa yang harus aku perbuat ketika aku teringat kembali dengan kenangan itu? Kenangan itu seakan membuat aku merasa teriris oleh sembilu disaat aku mengingat kembali dengan kenangan indah itu.
"No, impian kamu apa dalam hidup ini?" Tanya kau saat aku sedang melamun di bawah rindangnya pohon bersamamu. Sedangkan saat itu kau sedang sedang membaca buku tentang bagimana menjadi usahawan yang sukses. Halnya seperti pengusahawan sukses Puspo Wardoyo dengan ayam bakar Wong Solo-nya. Orang yang kau buat patutan untuk dirimu itu.
"Aku...?!"
"Iya kamu! Memangnya siapa lagi kalau bukannya kamu, aku tanya. Masa sih aku tanya sama pohon tempat kita berteduh ini," tukas kau lagi mempertegas pertanyaan itu kepadaku.
"Ya, impianku paling-paling hanya ingin menjadi orang bermanfaat saja bagi orang lain. Apalah artinya aku. Aku hanyalah orang biasa. Pendidikan pun hanyalah tamatan SMU tak pantas aku mengimpikan yang lain. Kalau pun itu benar itu lebih dari cukup," jawabku kepada kau tentang apa impianku dalam hidup ini.
"Katanya kamu ingin menjadi penulis, No," kata kau lagi.
Aku diam.
Tak dapat menjawab saat kau menanyakan impian itu. Impian yang membuat momok dalam impianku.
"Ah, kamu Win bisa saja meledekku. Apa aku pantas menjadi seorang penulis. Apalah aku? Aku ini hanya tamatan SMU tak pantas aku menginginkan itu," sergahku saat kau mulai membangunkan impian yang selama ini aku pendam jauh-jauh.
"Bukankah aku sering lihat karya-karya kamu di surat kabar." Lanjut kau lagi.
"Sudahlah aku tak mau mempermasalahkan impian itu. Nah, sekarang giliran aku menanyakan impian kau dalam hidup ini."
Kini aku beralih menanyakan tentang impian itu kepadanya. Tentang impian masing-masing dari kami berdua. Kini giliran aku menanyakan tentang impian itu kepada kawanku itu dibawah rindangnya pohon dan temani awan berarak tanpa arah serta burung-burung gereja yang sedang bercicit ria di atas pohon tempat kami berdua berteduh.
"Kalau impian kamu apa, Win," ujarku balik bertanya.
Ia tak menjawab.
"Win impian kamu apa dalam hidup ini. Kok aku tanya malah asyik sama buku yang kamu baca." Protesku mengulangi pertanyaanku padanya.
"Ma'af-ma'af aku sedang asyik baca buku ini, No. Oya, bisa ulang lagi pertanyaan kamu itu?"
"Makanya orang bicara didengar. Jangan main asyik sendiri dengan buku yang kamu baca itu. Maksudku apa impian kamu dalam hidup ini?" ulangku lagi menyakan hal impian hidupnya kepadanya.
"Impianku menjadi pengusaha sukses seperti buku yang aku baca ini. Dan juga ingin punya keluarga bahagia," jawabnya dengan lancar dari mulutnya seusai membaca buku tentang bagaimana menjadi pengusaha sukses itu.
"Oh, gitu? Kalau begitu bagus dibanding aku. Oya, sudah sore nih kita pulang yuk nanti kita kemalaman pulangnya. Bukankah nanti kamu mau menjemput ayah dan ibu kamu di bandara," ucapku memberitahukan dirinya dengan suatu hal yang hari itu dilupakannya. Bahwa hari itu dirinya akan menjemput ayah dan ibunyadi bandara. Hari itu ayah dan ibunya akan pulang seusai tugas dinas kerja ayahnya di Perancis. Dinas kerja.
Itulah hari terakhir aku bertemu dengan dirinya sekaligus kenangan terakhir dengannya. Memang aku sadari selama aku bersahabat dengan dirinya aku tak tahu benar siapa dirinya sesungguhnya. Pernah aku menanyakan kepada dirinya tentang arti sebuah persahabatan. Tapi ia hanya menunduk. Tak menjawab. Apa yang aku utarakan tentang sebuah persahabatan kepadanya. Hingga sampai hari ini dan sampai akhirnya aku tak dapat sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Dan kini aku tak bisa bersua dan bertemu kembali dengannya. Apalagi untuk melanjutkan impian kami berdua yang masih panjang. Belum terucapkan dari mulut kami masing-masing.
Erwin. Itu namanya. Kini hanya sebuah nama yang tingal nama yang terpatri dalam benakku. Ia adalah seorang sahabat yang aku kenal. Mungkin jika aku hitung persahabatan kami berdua hanya seumur jagung. Itu masin mending sebuah jagung walau masih muda tapi tetap bergizi dan enak di buat sebagai peneman lauk pauk. Baik untuk sayur maupun dicap-cai, makanan kesukaanku itu. Tapi tidak halnya dengan persahabatan kami yang seumur jagung itu. Persahabatan kami berdua tiba-tiba hancur berkeping-keping. Tak dapat disatukan lagi. Kalau pun bisa hal itu nihil untuk dilakukan. Itu pun saya tak tahu kenapa hal itu harus terjadi dan dari mana sumber itu bisa merusak persahabatan kami berdua. Aku sendiri juga tak tahu. Adakah hal yang salah pada diriku? Aku tak tahu juga. Entahlah. Aku pun tak bisa meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hanya satu aku tak ingin hal ini melebar luas. Baik itu dalam urusan pribadiku maupun dalam duniaku. Hal itu tak ingin tercampuri dalam
hidupku. Eantah sampai kapan hal ini terus berlanjut aku sendiri tak tahu. Satu hal sampai kapan aku tak pernah memisahkan diri dari persahabatan itu. Itu saja!
Kini hal itu tak ada lagi dalam diri kami berdua. Impian. Harapan. Kebersamaan. Kini tinggalah kenangan. Begitu juga dengan pohon yang telah menjadi saksi bisu kami berdua disaat kami berdua duduk bersama dalam impian kami berdua masing-masing. Pohon rindang itu seakan-akan menangis ketika kebersamaan kami tinggal kenangan. Padahal pohon itu jugalah yang memberikan kami berdua kesejukan hati kami berdua. Tapi itu semua itu tinggalah kenangan bagiku. Aku tak tahu kenapa hal itu terjadi. Hingga sampai saat ini aku masih mencari jawabannya. Jawaban atas perpecahan kami berdua.
Kumerenung. Kuberpikir. Kucari jawaban itu sendiri. Seperti biasa itu aku lakukan di bawah pohon rindang disaat kami masih berdua dengannya. Kucari jawaban dari segala perpecahan itu terjadi. Hingga ekor mataku melihat sebuah setapak jalan yang biasa aku lihat ketika aku masih bersama dirinya. Masih basah seperti lalu. Mungkinkah semalaman hujan turun lebat halnya seperti yang telah lalu aku lalui bersama dengan kawanku itu. Pikirku. Sekarang aku tahu jawaban dari perpecahan itu. Dikarenakan masing-masing dari kami berdua telah tertutupi oleh awan hitam yang mengiringi langkah-langkah kami berdua. Tapi aku yaain walaupun awan hitam itu mengiringi langkah-lakngk kami berdua masing-masing pasti awan hitam akan mengeluarkan rintik-rintik hujan. Dan saat itulah jalan setapak yang ada ditepi pohon rindang yang pernah kita teduhi bersama-sama aku yakin pasti akan dibasaihi oleh tetesan air awan hitam itu. Aku yakin itu. Sebab jalan itu belum kering, masih basah seperti dulu.
Dan aku yakin pasti aku akan menemui jawaban itu. Kita pasti akan bersama-sama kembali. Bercerita dan meneruskan tentang impian kita masing-masing.
Antara Ciputat dan Ulujami, 6-8 Februari 2008
Cerpen ini aku persembahkan kepada semua orang yang peduli dengan arti sebuah persahabatan, Jagalah persahabatan kalian semua.Itulah doaku kepada kalian. Amin........
------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___