Wednesday, February 6, 2008

[penulislepas] PEMBINAAN POTENSI DI LUAR INTELIGENSI

PEMBINAAN POTENSI DI LUAR INTELIGENSI

Relevansi ditentukan oleh bermanfaat tidaknya bekal hidup yang diberikan. Sampai saat ini kalangan guru dan pendidik masih menganuti paham tradisional. Anak yang membawa harapan adalah anak yang dinilai cerdas, dalam arti memiliki kemampuan intelektual tinggi (=ber-IQ tinggi). Penelitian longitudinal yang dibuat kalangan Harvard memberikan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa keberhasilan di dalam hidup bukan ditentukan oleh tingginya IQ. Ada faktor lain yang lebih berpengaruh. Satu dari faktor lain itu adalah kecerdasan emosional. Kemudian ditemukan lagi beberapa "kecerdasan" lain, yang turut menentukan keberhasilan seseorang didalm hidup konkret.

Apabila sekolah-sekolah ingin relevan, artinya ingin memberikan bekal hidup bagi peserta didik, maka temuan diatas harus mengubah titik berat pendidikan dan dunia persekolahan kita. Kita tetap meningkatkan kemampuan intelektual, akan tetapi kita tidak boleh berat sebelah. Peningkatan kemampuan emosional dan kemampuan-kemampuan lain harus mendapat porsi yang seimbang. Sekarang digunakan satu skala nilai untuk "mengukur" kadar intelektual murid, padahal untuk mengukur kemampuan emosi dll tidak ada alatnya. Di dalam raport dituliskan nilai berdasarkan daya serap (intelek!) murid. Untuk "kecerdasan" lain, yang sebenarnya lebih menentukan keberhasilan murid di dalam kehidupan, hanya ada catatan tentang kelakuan. Dalam kolom kelakuan pada umumnya ditulis dengan gampang "baik", tanpa skala nilai yang sedikit lebih akurat.

Memang dunia pendidikan kita masih mendewakan kemampuan intelektual. Demi relevansi pendidikan, hal ini harus diubah. Sekolah harus memberikan perhatian serius dan melowongkan waktu dan jam pelajaran untuk mengembangkan kemampuan emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok,dll. Pembinaan potensi-potensi diluar inteligensi harus dijadwalkan baik di dalam jam pelajaran, maupun terutama melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, berprakarsa dan bekerja sama dalam kelompok dll.

Bekal hidup yang penting tetapi kurang diperhatikan disekolah-sekolah adalah sikap-sikap hidup yang membentuk watak seseorang. Sikap sederhana, jujur, terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah-tamah dan bersahabat, siap bahu-membahu didalam pergaulan sehari-hari, cinta yang ikhlas kepada sesama, khususnya yang kurang "beruntung", tidak hanya mementingkan diri sendiri, cinta tanah air tanpa terkungkung dalam chauvenisme yang sempit dll, merupakan sikap-siakp yang menjadi permata-permata dalam kepribadian seseorang. Sejak dini sikap-sikap kemanusiaan ini wajib dikembangkan.

Pengembangan sikap-sikap kemanusiaan yang luhur ini umumnya dianjurkan oleh semua agama dan tradisi kemanusiaan yang beradab. Pengembangan sikap-sikap ini sejak dini menghasilkan "kebiasaan-kebiasaan" baik dalam diri manusia. Kebiasaan menyebabkan manusia secara "spontan" menghadapi satu situasi hidup selalu sambil berpegangan kepada norma perilaku yang dianuti. Menghadapi sesama yang terkena musibah orang siap membantu; mengahadapi kemungkinan meraup uang atas cara yang curang, orang akan berusaha tetap jujur dan tidak curang karena merasa bertanggung jawab kepada Tuhan; menghadapi orang yang berlainan paham atau keyakinan kita tidak langsung menutup diri dan juga tidak memaksakan keyakinan atau paham kita.

Sikap-sikap ini pada umumnya dikembankan melalui mata pelajaran yang bermuatan paham dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Mata pelajaran itu adalah pendidikan agama, budi pekerti, dahulu PMP, PPKn dan sejenisnya. Mengapa melalui sekian banyak jam pendidikan agama di SD (dua jam per pekan artinya minimal 80 jam per tahun, atau 480 jam selama jenjang SD) dan dilanjutkan pada jenjang-jenjang berikutnya, pendidikan agama tidak atau kurang memberikan hasil yang diinginkan? Mengapa warga bangsa yang mengikuti sekian puluh bahkan sekian ratus jam PMP tidak nampak lebih adil secara sosial, lebih beradab secara manusia, dll?

Hasil yang diharapkan tidak tercapai, Karena pendidikan agama dan sejenisnya diselenggarakan atas cara yang persis sama dengan mata pelajaran yang lain. Cara itu adalah cara mengalihkan pengetahuan (transfer of knowledge). Orang tahu baik apa isi ajaran, perintah dan nasihat agama, bahkan tahu diayat mana dalam Kitab Sucinya hal-hal itu dapat ditemukan. Pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran agama memang sangat membantu, akan tetapi tujuan pendidikan agama da pendidikan sejenisnya bukan sekedar pengetahuan dan pemahaman. Tujuannya adalah pengembangan/ pembinaan sikap hidup, yang berorientasi kepada paham dan nilai yang sudah dipahami itu.

Untuk adil terhadap orang lain di masyarakat, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan keadilan sosial. Akan tetapi, pengetahuan itu saja belum cukup. Harus dibina di dalam diri kita motivasi, yang perlahan-;ahan mendarah daging, sehingga menjadi sikap yang menetap. Dengan sikap itu kita menghadapi apa saja yang terdapat dan terjadi didalam kehidupan kita. Harus ada internalisasi paham dan nilai, sehingga paham dan nilai menjadi pedoman batin yang selalu mengarahkan manusia untuk berperilaku sesuai dengan paham dan nilai yang dianuti.

Internalisasi paham dan nilai sampai menjadi sikap batin yang "dari dalam" mengarahkan perilaku manusia, tidak dapat terjadi apabila pendidikan agama, budi pekerti dan sejenisnya lebih menitikberatkan alih pengetahuan ajaran/hukum/ritus agama.5 Cara yang ternyata ampuh adalah apa yang disebut dengan pendidikan nilai.

Pendidikan nilai selalu berawal mula dari pengamalan hidup sehari-hari. Pengamalan hidup menyentuh seluruh pribadi manusia, bukan saja otaknya. Perasaan tergugah dan kehendak serta aspirasi diarahkan untuk melakukan sesuatu. Pengalaman nyata ditanggapi dari segala segi; dianalisis dan dinilai, dikomentari sambil berpegang kepada paham dan nilai iman yang diantui. Sesudah analisis dan refleksi berdasarkan paham dan nilai iman, pengalaman mengajak peserta didik untuk menarik satu kesimpulan penting, yaitu menerima dan berpihak kepada paham dan nilai yang dianuti. Dengan kesimpulan itu para peserta didik (sendiri-sendiri atau bersama-sama) berusaha menerapkan paham dan nilai yang telah diyakini dan diterima itu.

Pendidikan nilai - menurut keyakinan agama dan budaya menjadi lebih penting lagi, kareba didalam masyarakat beredar sekian banyak paham dan nilai yang kurang sejalan, bahkan bertolak belakang dengan paham dan nilai yang ingin dikembangkan. Paham dan nilai itu disajikan dan dipertontonkan dengan cara yang sangat menarik oleh perilaku kalangan tertentu, yang khususnya disebut "selebritis" dan oleh media massa. Ikutilah adegan dan juga dialog serta kelakar yang ditayangkan di dalam film-film dan acara TV. Para pendidik yang serius akan sangat sedih.Paham dan nilai yang dengan susah payah dikembangkan melalui upaya pendidikan, dihancurkan oleh perilaku selebritis dan tanyangan-tayangan TV serta sajian media lainnya. Pengalaman paham dan nilai kemanusiaan yang luhur sudah berkurang didalam masyarakat luas. Karena itu, dunia pendidikan harus lebih bersungguh-sungguh dalam mengupayakan pendidikan nilai.

Melalui pendidikan nilai daya tahan generasi muda ditingkatkan. Dengan demikian mereka dapat menentukan sikap hidupnya sendiri, tanpa terombang-ambing oleh paham dan nilai yang ditawarkan berbagai pihak. Melarang perilaku dan adegan yang ditayangkan atau disajikan media massa misalnya, tidak banyak bermanfaat. Lebih baik ditingkatkan kemampuan kritis dan ketangguhan hati nurani generasi muda untuk menganalisis serta menilai apa yang disajikan berdasarkan paham dan nilai keagamaan dan kebudayaan yang dianuti. Apresiasi atau tafsir budaya terhadap hal-hal yang disajikan, berdasarkan paham dan nilai yang dianuti, akan memperkuat keyakinan generasi muda akan paham dan nilai yang dianuti.

Sehubungan dengan pendidikan nilai sangat penting peran keluarga. Diatas dikatakan bahwa pendidikan nilai selalu berpangkal tolak dari pengalaman dan mengarah kepada pengamalan. Nah, tanpa mengucap banyak kata dan membeberkan seluk beluk ajaran dan teori, didalam keluarga terjadi secara spontan pengalaman-pengalaman bersama., yang menggugah bukan saja nalar, ingatan, perasaaan dan kehendak manusia. Pengalaman bersama dibagi dan dikaji serta ditafsir bersama. Paham dan nilai yang terkandung didalam pengalaman, diresapi, dihayati dan diamalkan bersama.

Didalam keluarga kesabaran, sikap ramah, tenggang-rasa, dan lain-lain tidak diajarkan dengan kata-kata, tetapi dengan teladan, dengan pengamalan yang diperoleh dalam kehidupabn kehidupan keluarga sehari-hari. Pengalaman membuka mata orang, dan pengalaman mengajak orang untuk bertindak. Dari seorang Ibu yang serba sabar, Ayah dan anak-anak belajar menghargai kesabaran dan berusaha untuk juga sabar. Dari seorang Ayah yang tegas dalam pendirian tetapi supel dalam menerapkan pendidikan, anak-anak belajar memiliki pendirian tetapi bijaksana dalam menerapkan pendidikan tersebut.

Tentu saja pengalaman dan pengamalan paham dan nilai di dalam keluarga mengandaikan keluarga itu benar-benar memiliki, dan berpegang teguh kepada paham dan nilai tertentu. Kecuali itu harus ada di iklim yang serasi antara anggota keluarga. Ada saling memberi dan menerima, saling menghormati dan melayani, dan yang paling penting ada komunikasi timbal balik yang enak didalam suasana keakraban keluarga,

Sayang pola hidup keluarga-keluarga "modern" yang anggota-anggotanya memiliki kesibukkan dan pekerjaan masing-masing sering tidak menunjang iklim yang dibutuhkan untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi. Bila ingin memelihara suasana keakraban, dimana ada interaksi dan komunikasi, keluarga-keluarga harus bersedia menyusun jadwal, melowongkan untuk bersama-sama melakukan, menghayati, mengamalkan bahkan menikmati sesuatu. Di dalam kebersamaan paham dan nilai dipertukarkan, dihayati dan diamalkan.

Karena kesibukkan, orang tua sering menyerahkan seluruh pendidikan anak ke tangan para pendidik dan pengasuh disekolah. Hal ini tidak tepat. Tugas mendidik, apalagi membina paham dan nilai menjadi sikap, kepribadian dan watak merupakan tugas orang yang sudah melahirkan anak, dengan kata lain tugas orang tua. Memang tidak semua tugas pendidikan dapat diemban dengan baik oleh orang tua. Untuk itu diciptakan lembaga-lembaga pendidikan. Akan tetapi, tidak boleh orang tua "lepas tangan" seluruhnya dalam urusan membesarkan dan mendewasakan anak. Kerja sama dengan pihak sekolah oleh lembaga pendidikan sangat baik dan dianjurkan, akan tetapi tidak boleh seluruh tugas mendidik dilimpahkan kepada sekolah/ lembaga pendidikan.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Sekolah-Menulis Online Resmi Dibuka Lagi
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================

=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================

Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================

Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================

Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253

=============================================

Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================


Recent Activity
Visit Your Group
Y! Entertainment

World of Star Wars

Rediscover the force.

Explore now.

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Y! Groups blog

the best source

for the latest

scoop on Groups.

.

__,_._,___