mengharukan.
--- Yayasan Mitra Netra <netra@dnet.net.
> To: <mitra-jaringan@
> From: "Yayasan Mitra Netra" <netra@dnet.net.
> Date: Tue, 5 Feb 2008 23:16:18 -0800
> Subject: [mitra-jaringan] Resensi buku puisi Angin
> Pun Berbisik
>
> Resensi Buku puisi Angin Pun Berbisik yang dimuat di
> Harian Media Indonesia pada rubrik bedah pustaka
> tgl.26 Januari 2008.
>
>
>
> Gelora Cinta di Atas Jembatan
>
>
>
> Judul : Angin pun Berbisik: Kumpulan
> Sajak Cinta
>
> Pengarang : Irwan Dwi Kustanto, Siti
> Atmamiah, dan Zeffa Yurihana
>
> Pengantar : Mohamd Sobary
>
> Penerbit : Jakarta: Sp@asi dan Yayasan
> Mitra Netra, Januari 2008
>
> Tebal : xxvii + 164 halaman
>
>
>
> Puisi-puisi dalam buku ini lahir dari sebuah proses
> yang mengharukan. Ditulis oleh sebuah keluarga,
> Irwan Dwi Kustanto (suami/ayah)
> (istri/ibu), dan Seffa Yurihana (anak), puisi-puisi
> itu adalah ekspresi, saksi, sekaligus dokumentasi
> pasang-surut cinta, rindu, cemburu, kesedihan, dan
> kebahagiaan dalam hubungan suami-istri dan
> ayah-ibu-anak.
>
> Menginjak usia 9 tahun, Irwan mengalami gangguan
> penglihatan. Usaha penyembuhan dilakukan dengan
> berbagai cara, tapi dokter akhirnya menyimpulkan
> bahwa retina kedua matanya rusak total. Ia harus
> menerima kenyataan bahwa dia kini adalah seorang
> tunanetra. Dengan perasaan kecewa dan putus asa,
> pria kelahiran Jakarta, 7 November 1966, ini
> memasuki babak baru hidupnya yang gelap. Tak bisa
> lagi melihat dengan awas adalah sebuah pukulan
> sekaligus beban mental yang amat berat.
>
> Pukulan berat yang takkan terlupakan
> dialami Irwan ketika dia kuliah filsafat pendidikan
> di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Dengan kesadaran penuh
> bahwa dia kini seorang tunanetra, dia bercita-cita
> menjadi guru. Ketika itu dia sudah fasih baca-tulis
> huruf Braille. Tapi setelah menyelesaikan semester
> 1, perguruan tinggi itu tidak membolehkan Irwan
> melanjutkan kuliah ke semester berikutnya. Alasannya
> sungguh menyakitkan: "Calon guru tak boleh cacat."
> Dengan hati pedih, dia pun pergi meninggalkan kampus
> itu.
>
> Tapi Irwan tidak kalah. Dia akhirnya
> kuliah filsafat Islam di IAIN (kini: UIN) Syarif
> Hidayatullah Jakarta, dan berhasil merampungkannya
> di tahun 2004. Maka dia fasih berbicara filsafat,
> baik klasik maupun modern, dari Al-Kindi hingga
> Murtadha Muthahhari, dari Thales hingga Habermas. Di
> antara filsuf yang dikaguminya adalah Muhammad
> Iqbal, penyair dan filsuf Pakistan itu. Tidaklah
> mengherankan kalau dia menyukai sajak atau puisi, di
> samping filsafat.
>
> Irwan bahkan menulis semacam kredo
> puisi, sebuah sikap kepenyairan yang jelas berlatar
> hidupnya sebagai seorang tunanetra sekaligus seorang
> sarjana filsafat yang menyadari keterbatasan rasio.
> Dia menulis, "Tatkala mata fisikku tak lagi sempurna
> menggambarkan dan memproyeksikan benda-benda ke
> dalam otak dan pikiranku, maka hati dan jiwaku
> menggantikannya dengan ketajaman penglihatan yang
> sungguh dahsyat. Begitulah, aku dihadiahkan oleh
> Tuhan dan alam kasih sayang yang melimpah, aku
> dibiarkan untuk mengenali dirinya dengan caraku
> sendiri ....
>
> Dunia yang terkurung oleh petak-petak
> dalam rasio manusia terpancar menyatu dalam gelora
> dan kelembutan makna hadirku, aku terbiasa dengan
> sentuhan jari, penciuman, pendengaran serta
> terkadang kilatan-kilatan rasa yang membuatkehadiran
> dunia menjadi berdimensi dan utuh. Kesan-kesan yang
> menggurat lantas menjadi begitu hidup, seakan
> berbicara dengan huruf-huruf, kata demi kata dan
> akhirnya menjelma sebagai sajak.
>
> Sajak bagiku kehidupan, baik dituliskan atau
> dilisankan, bahkan jika hanya tersimpan dalam relung
> hati sekalipun. Dia tetap tumbuh dan berkembang,
> memberi segala rupa, makna dan rahasia kepada siapa
> pun yang menginginkannya hidup. Dalam kegelapan dan
> redupnya cahaya yang mampir ke dalam mataku, sebait
> sajak bernilai berjuta gambar bagi siapa pun yang
> mendengar atau menbacanya, oleh karenanya dengan
> sajak dunia begitu berwarna, meriah, agung dan indah
> bagiku."
>
> Di IAIN Syarif Hidayatullah, Irwan
> bertemu dengan Siti Atmamiah, kakak kelasnya yang
> juga menyukai puisi. Kepada perempuan bermata awas
> yang kemudian menjadi istrinya inilah, puisi Irwan
> berikut ini (mungkin) dialamatkan: rembulan cinta,
> senyum menjelma/ menetaslah rindu/ tatkala bermula,
> senja termangu/ dan saat malam menggeliat, tak
> henti-henti/ kusebut namamu (hal. 37). Mereka kini
> dikaruniai 3 anak: Zeffa Yurihana, Zella Adilati,
> dan Zeyyina Kayyis Kaila.
>
> Hidup bahagia sebagai sebuah keluarga,
> tuntutan kenyataan memaksa mereka hidup terpisah
> sejak tahun 2004. Karena alasan pekerjaan, Irwan
> tinggal di Jakarta, sementara istri dan ketiga
> anaknya tinggal di Tulungagung, Jawa Timur, karena
> alasan orangtua sang istri. Praktis Irwan berjumpa
> istri dan anak-anaknya hanya pada hari-hari libur.
>
> Tapi jarak tak memisahkan keluarga bahagia ini.
> Jarak tak lain adalah sebuah jembatan melalui mana
> rindu, kesedihan, dan kebahagiaan bersama selalu
> dihubungkan. Jarak adalah sebuah ruang dimana cinta
> menemukan biru apinya yang kekal dan menyala-nyala.
> Dari sanalah puisi-puisi mereka lahir. Dalam
> kata-kata Atmamiah sendiri, "... puisi ini lebih
> terinspirasi oleh perasaan yang timbul akibat sebuah
> jarak, rindu, kesedihan yang benar-benar niscaya,
> dan cinta yang paling agung dan abadi -dunia tak
> pernah segelap ini."
>
> Maka membaca puisi dalam buku yang
> diluncurkan Rabu (23/1) lalu ini, adalah membaca
> kesedihan sekaligus kebahagiaan yang menggelora
> dalam biru api cinta yang menyala-nyala. Kesedihan
> dan kebahagiaan, kesabaran dan ketabahan, impian dan
> harapan, terdengar bersahut-sahutan di
> halaman-halaman buku ini, seakan suara samar yang
> melintas-lintas antara Jakarta-Tulungagung
> dendang cinta Irwan Dwi Kustanto dari Jakarta:
>
>
>
> Cintaku padamu
>
> Adalah sungai berbatu
>
> Yang selalu
>
> Berkelebat bayang camar
>
> Enggan mendarat
>
> Bertiup angin meminta pulang
>
> Pada gelisahmu yang runtuh karena gerimis
>
> Di senja menjelang galungan
>
> Di mana kau tempatkan sesaji pada dukaku
>
> ...
>
> (hal. 9)
>
>
>
> Seakan menyahuti dendang cinta itu, di Tulungagung
> Siti Atmamiah pun bernyanyi sendu:
>
> Sepagi ini engkau terbangun
>
> Kutahu mimpimu belum sempurna
>
> Kau genggam sepotong rembulan jatuh di wajahmu
>
> Matamu yang terpejam
>
> Bukan karena engkau tertidur
>
> Belajar membaca pertanda
>
> Pada jubah yang memnuimpan rahasia semesta:
>
> Laut melumat pasir saat gelombang pasang
>
> Awan mengarak burung saat kehabisan dahan
>
> Bulan yang terluka
>
> Kecipak air muara
>
> Matamu yang memejam
>
> Mengharap harum bunga
>
> Tak usah dinanti melati mekar
>
> Bila kuncupnya membuatmu merangkai cinta.
>
> (hal. 125)
>
>
>
> Siti Atmimiah berdendang pula, sebuah
> dendang rindu dari jauh:
>
> Berjalan engkau
>
> Saat senja baru saja pergi
>
> Sebutir kenangan yang lewat
>
> Mencari-cari jemarimu yang muram
>
> Tak ada awalnya
>
> Ketika kita bertemu
>
> Merapatlah
>
> Dadaku penuh gelora
>
> Di sini darah sedang mengalir deras
>
> Mengejar sekumpulan awan
>
> Yang membawa kabar:
>
> "Esok sore engkau akan datang"
>
> (hal. 127)
>
>
>
> Dan Zeffa Yurihana? Seperti ibunya, anak
> 11 tahun itu berharap sang ayah selalu ada di
> sampingnya, harapan yang dia tahu sedekat ini tak
> mungkin terpenuhi. Maka harapan dan permintaannya
> bersifat penuh seluruh, sebuah permohonan anak-anak
> yang memelas dan mengharukan:
>
> Kali ini saja kumeminta
>
> Kali ini saja kumemohon
>
> Di suatu hari nanti
>
> Kutakkan meminta lagi
>
> Kau harus bersamaku
>
> Takkan meninggalkanku
>
> Hidup ini serasa sempurna
>
> Karena ada kau di sampingku
>
> Kali ini saja kumeminta padamu
>
> Untuk menyempurnakan jalan hidupku
>
> (hal. 148).
>
> Di atas gelora cinta itu, dalam
> kesedihan dan kebahagiaan keluarga, dan dengan
> keterbatasannya sebagai seorang tunanetra namun
> dengan ketajaman mata lahir-batinnya yang luar
> biasa, Irwan Dwi Kustanto kini mengabdikan diri
> untuk memenuhi hak-hak kaum tunanetra. Di Indonesia,
> jumlah tunanetra mencapai 3 juta orang atau 1,5%
> penduduk. Sebagai wakil direktur eksekutif Yayasan
> Mitra Netra, Jakarta, yang dijabatnya sejak 2001,
> Irwan mengembangkan sistem simbol Braille Indonesia,
> menciptakan Mitra Netra Braille Converter (sebuah
> perangkat lunak penkonversi aksara komputer ke
> aksara Braille), menggagas kamus elektronik untuk
> tunanetra, dan menggagas program Seribu Buku untuk
> Tunanetra. Di samping itu, pria yang sempat aktif di
> Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini adalah instruktur
> nasional untuk pengembangan simbol Braille
> Indonesia.
>
> Jika sajak bagi Irwan adalah kehidupan,
> sebagaimana diakuinya sendiri, maka kreativitas dan
> produktivitas mengatasi jarak dan ketunanetraan
> adalah kehidupan Irwan yang sesungguhnya.
>
>
>
>
> Pondok Cabe, 24
> Januari 2008
>
>
>
> Jamal D. Rahman, penyair, pemimpin redaksi majalah
> sastra Horison
>
>
>
____________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___