Saturday, February 9, 2008

[penulislepas] PRAKSIS PENDIDIKAN DAN KEBIJAKAN NASIONAL YANG BELUM MENCAPAI SASARAN

PRAKSIS PENDIDIKAN DAN KEBIJAKAN NASIONAL

YANG BELUM MENCAPAI SASARAN

Dunia pendidikan pada umumnya merosot dari tahun ke tahun dengan kecepatan tinggi! Padahal maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh mutu pendidikannya. Kemajuan dan perkembangan dibidang ekonomi dan perdagangan, dibidang sains dan teknologi, dan secara khusus dibidang sosial budaya dengan tata paham dan tata nilai yang dianuti, sangat ditentukan oleh mutu pendidikan yang diperoleh warga. Mutu pendidikan di Indonesia umumnya masih rendah. Begitu kesan dan pengalaman kita sehari-hari. Dan begitu pula hasil beberapa penelitian ilmiah. Lebih bermanfaat apabila kita menghadapi wajah pendidikan yang suram ini dengan kepala dingin daripada berdalih mencari kambing hitam.

Sehubungan dengan praksis pendidikan sehari-hari dipersoalkan kurikulum dalam segala aspeknya; seleksi masuk; Ujian sekolah, UAN dan SKS. Dikedepankan mutu pendidikan yang di semua lini menunjukkan kemerosotan yang memprihatinkan. Ada kemerosotan dalam proses pembelajaran. Ada kemerosotan moralitas dan menghilangnya keteladanan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Disentil juga gaya militer yang masih bertahan (atau dipertahankan?) di kampus-kampus dan keseriusan mengejar gelar bukan mutu. Ujian ditempuh terutama untuk lulus secara formal, bukan sebagai sarana peningkatan mutu riil. Hasil praksis pendidikan yang menelan biaya begitu besar dipertanyakan. Apa yang salah sehingga begitu banyak lulusan, juga yang lulus dengan gemilang, belum memperoleh pekerjaan yang sesuai.

Negara kita didirikan justru untuk mencerdaskan putra-putri bangsa, agar dapat hidup layak sebagai manusia bermartabat disamping bangsa-bangsa lain didunia. Pencerdasan bangsa dilakukan terutama melalui upaya pendidikan. Hal lain, masyarakat sangat prihatin dengan menyaksikan munculnya satu trend baru di dalam dunia pendidikan khususnya persekolahan. Lembaga-lembaga pendidikan dan persekolahan mulai berkembang menjadi sarana diskriminasi yang memperlebar dan memperdalam jurang-jurang sosial. Uang pangkal, uang sekolah, uang gedung, uang kredit semester, uang ini dan itu lainnya makin membengkak. Kenyataan pahit ini menutup kesempatan berkembang bagi sekian banyak warga bangsa yang secara ekonomis kurang mampu.

Perlakuan yang sering diskriminatif terhadap pendidikan swasta, yang sebenarnya sudah didudukkan pada posisi "mitra" juga menggelitik rasa keadilan masyarakat. Kita bertanya-tanya apakah negara ini serius dengan salah satu asas utamanya: yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita menyadari, pendidikan dan persekolahan, apalagi yang bermutu, membutuhkan biaya besar. Akan tetapi, apakah biaya itu seluruhnya harus dibebankan kepada orangtua atau wali murid? Dengan akibat, yang mampu dijadikan lebih mampu lagi dan yang kurang atau tidak mampu lebih dipojokkan lagi.

Rangkaian tulisan ini mengangkat juga ke permukaan beberapa terobosan. Ada pihak-pihak yang memprakarsai "sekolah-sekolah unggul" dan sekolah standar nasional. Sekolah-sekolah ini diharapkan dapat memberikan pendidikan yang lebih bermutu, karena lebih memperhatikan cara-cara baru di dalam proses pembelajaran. Dan secara khusus berusaha menghadapi tantangan perkembangan sains dan teknologi di era globalisasi dewasa ini. Sekolah-sekolah unggul dapat menjadi mercusuar di sekitarnya, yang turut menyeret sekolah-sekolah lain untuk mengusahakan peningkatan-peningkatan mutu.

Sebagai Negara hukum, dunia pendidikan diatur melalui ketentuan-ketentuan perundang-undangan. Ketentuan-ketentuan perundang-undangan belum tentu menunjang praksis pendidikan, karena ada yang dibuat demi menggapai sasaran-sasaran tertentu. Dan yang diutamakan adalah aspek politis bukan aspek pedadogis, psikologis dan metodologididaktis. Disoroti berbagai PP, keputusan Menteri dan Dirjen, bahkan RUU Sisdiknas yang waktu itu menimbulkan gejolak tajam dimasyarakat. Diminta agar dalam menyusun kebijakan melalui ketetapan-ketepan hukum, kita bertindak adil terhadap semua kelompok dan semua lapisan masyarakat. Bahkan dalam rangka membasmi berbagai diskriminasi, ketentuan hukum diminta berpihak kepada yang lemah dan yang termarjinalisasi.

Kecemasan dan kegelisahan terhadap setiap gerak langkah perubahan kebijakan pendidikan, apalagi kalau terjadi pergantian seorang menteri pendidikan, karena ada pameo "ganti menteri ganti kebijakan". Kontinuitas sebuah kebijakan tidak pernah tuntas, akibatnya program pendidikan tidak pernah terarah dan selalu gagal mencapai sasaran. Gejala seperti ini menjadi salah satu penyebab serius mengapa mutu pendidikan menjadi polemik berkepanjangan setiap saat. Kecemasan ini semakin bertambah kalau menterinya membawa pesan sponsor dari partai politik yang mengusungnya.***(dr/03/12/06)

The information transmitted is intended only for the person or the entity to which it is addressed and may contain confidential and/or privileged material. If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail and delete this message including any of its attachments from your system. Any use, review, reliance or dissemination of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. The views expressed herein do not necessarily represent those of PT Showa Indonesia Manufacturing and should not be construed as the views, offers or acceptances of PT Showa Indonesia Manufacturing.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Sekolah-Menulis Online Resmi Dibuka Lagi
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================

=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================

Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================

Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================

Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253

=============================================

Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================


Recent Activity
Visit Your Group
Only on Yahoo!

World of Star Wars

Meet fans, watch

videos & more.

Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

.

__,_._,___