SATU SEMESTA DADAMU
di dadamu hidup dan bergerak
satu semesta disemayami milyaran
Nebula, dari milyaran nebula
Dihuni milyaran gugusan bebintang
jutaan milyar tata surya
jadi himpunan bagiannya
dan milyar-milyar-
planet, bulan, komet, asteroid,
sebagai noktah-noktah atomnya
dalam diam yang senyap serta
dijaga sistim gravitasi rahasia
mereka semua bertasbih
pada keteratuan irama mahasempurna
dari udara yang kau hirup
kau hidupkan mereka
dari air yang kau reguk
kau basahi mereka
dari sesuatu yang kau buang
dari sistim sekresimu
kau bersihkan mereka
dari segala yang kau makan
kau tumbuh-kuatkan mereka
sesuatu yang akan mengekalkanmu
di semesta neraka atau surga
pada diriku demikian adanya
juga pada milyaran manusia lainnya
Februari 11, 2008
BERDANSA DENGAN SEPI MALAM
berdansa dengan sepi
malam
di atas motor eks-kekasihmu
kita ukur lengang demi lengang
jalan
di bibir-bibir bandung remang
setengah lampu sadar dan pingsan
lilin-lilin malam
bandung
seperti kerlip kunang-kunang
yang menggoda kupu-kupu
singgah di rumputan taman
ada jari-jari lembut dedaunan
dan hamparan hangat embun
diterangi bulan
ada pintu kamar terbuka
di sudut surga
bagi mereka, pejalan larut
juga bagi gelandang kesiangan
untuk berdansa
dengan sepi malam
yang kian menerbar aroma
temaram
di atas ranjang kelam
ajarkanlah jalan ini satu masa
pada anak-anak kita
bahwa
dengan sepi malam,
lelaki hanya boleh berdansa
tidak untuk jatuh cinta
POHON NABI
semalam terakhir, kau beri tik merah di kalender usiamu kau panjati
pohon nabi dipucuknya yang mengapung di lautan gurun tua janda kaya
menggiurkan pantatnya tawa merekahkan giginya tawamu seperti sabda
sunyi di balik dedaunan itu waktu adalah angin yang datang dan pergi
meninggalkan aroma misteri oase yang tumbuh dewasa di bawah butiran
pasir seperti tersisir kau sudah melihat pucuk tertinggi pohon nabi
di mana tuhan adalah pintu bagi segala kemungkinan yang tak bisa
dikira atau sekedar diraba mungkin dia bersila seraya memejamkan
mata mungkin dia tak berkaki atau bermata mungkin dia tengah bicara
kepada malam dan bulan mungkin dia tak berlidah atau pita suara
mungkin dia sedang memetik harpa mungkin juga dia tak berjari atau
bertangan kau cuma menduga di pucuk itulah layaknya kau menundukkan
kepala dan menuntaskan dahaga
DUA MENARA LANGIT
/1/
aku durhaka halaman ke halaman buku
filsafat dan agama yang kubaca,
bermula dari angin yang datang dari selatan
bertiup kencang merontokkan
daun-daun rasa yakinku,
akan pertumbuhan lingkar tahun
pada cangkang mimpi musim dingin
mendatang
akarku ingin meresap hara
cadangan
betapa menggelikan mimik batangku
bagi orang-orang kerdil penjaja hidup
sedampar pulau kue serabi basi
yang sejenak melepas butir keringat
di bawah cabang-rantingku
di terminal pulau gadung,
pagi yang buntu melempar
oksigen segar
jauh ke kumpulan kepulauan
seribu
seperti badut tanpa kostum dan pentas lagi,
bolak-balik, kuhitung helai demi helai pucuk daun hijau
yang di ujung tahun ini, terpasung di ketiak dahanku
nomor sim card handphone soni ericson silver,
kau tanam tepat 2 meter dari pusat akar tunjangku
tiga tahun yang lalu
beberapa bulan dari hulu
bagaimanapun, pada diriku kukatakan,..
" tak apalah
semua ini karena mereka manusia biasa
seperti mereka, memandangimu
penuh tanda tanya
di pinggiran sawah sukabirus
dayeuh kolot sana"
namun masih saja ada yang menggaris bawahi baris-baris
kalimat yang hurufnya dicetak tebal di buku jam ini,
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
/2/
aku benahi lagi letak ranting, cabang dan daun
yang membelakangi matahari
aku tidak bisa berpindah tempat
atau sedikit manuver pesawat
seperti burung gereja lusuh
yang pagi ini entah dari mana datangnya
bersama enam kawannya
liar berkicau di sela rerimbunan daunku
yang meronta
kiranya mereka tengah membangun sarang
bagi musim kawin bulan mendatang
percuma menanyakan kesopanan mereka
pada tuan rumah yang mereka pinjam
kamarnya
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
/3/
Angin kembali menggulung daun-daun rentaku
bernafas, tumbuh, dan hidup di daerah sekasar
pulo gadung
tidak hanya membuatmu waspada kepada angin saja
air kencing manusia, tahi burung-burung
kerak hujan dan guntur
dan air bah yang menyimpan kampak
di belakang tubuhnya
adalah mimpi-mimpi sumbang
sebelum dinas kota
memperbaiki pagar pengaman
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
/4/
air mantra yang mengalir deras dalam pembuluh benakku
seperti air mata
para pengemis yang menadahkan tangan di atas kepalanya
di sela dua menara langit dengan pejaman mata
pada langit aku menutup pintu hujan sudah lama
karena kita cuma menyambit udara kosong saja
dalam dongeng dan pantun guru-guru agama manusia
tapi apalah air mata
hanya satu tandan pupuk renta
untuk alasan musim kemarau
sepintar matahari memperpanjang
lembar siang di tarian bayang-bayang
manusia masih saja hulu lalang
di atas akarku yang meranggas
dengan menyimpan api di kepala dada mereka
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
/5/
aku curiga pada lift gedung bertingkat delapan belas itu
orang-orang berpakaian dasi berwajah monyet
bergelantungan di ranting-ranting pohon naluri uang
mengunyah-ngunyah dasi mereka
seperti pengemis yang keletihan
mengangkat tangannya
meminta-minta pada langit yang acuh
pada cibir tatapan orang yang mobilnya
sejenak berhenti di persimpangan lampu merah
seperti burung-burung gereja tolol ini
yang melahap daun-daun mudaku
untuk sarangnya
sebelum malam tiba
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
/6/
tak ada yang membuatku berbeda sejauh metro mini
yang datang dan lima belas menit kemudian pergi
selain ceceran gelap yang kucari pada malam
bulan menyelamatkanku dari matahari dan manusia
dan burung-burung gereja itu menutup matanya
dalam kelelahan yang menjemukan
dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu
ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu
selain aku sendiri yang harus menggugurkan dahan dan daun
dalam hitungan seorang akuntan
STANCE (3)
Stik itu bersandar di dindingnya
Meja bertumpu di empat kakinya
Kursi dengan quartet tangannya
Bola-bola tenang dengan lengkung
Bundarnya
Kau: berdiri cukup dengan satu
kaki dada
sajak-sajak lain dan sajak ini
dapat ditemukan di kategori "sebotol malam"
di blog blalang_kupukupu
silakan bertamu aja
http://asharjunanda
salam cipikacipiki
blalang_kupukupu
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================
=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================
Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================
Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================
Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253
=============================================
Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___