Monday, February 11, 2008

[penulislepas] Sajak-sajak "blalang_kupukupu" edisi 9

SATU SEMESTA DADAMU
di dadamu hidup dan bergerak
satu semesta disemayami milyaran
Nebula, dari milyaran nebula
Dihuni milyaran gugusan bebintang
jutaan milyar tata surya
jadi himpunan bagiannya
dan milyar-milyar-milyaran
planet, bulan, komet, asteroid,
sebagai noktah-noktah atomnya
dalam diam yang senyap serta
dijaga sistim gravitasi rahasia
mereka semua bertasbih
pada keteratuan irama mahasempurna

dari udara yang kau hirup
kau hidupkan mereka
dari air yang kau reguk
kau basahi mereka
dari sesuatu yang kau buang
dari sistim sekresimu
kau bersihkan mereka
dari segala yang kau makan
kau tumbuh-kuatkan mereka

sesuatu yang akan mengekalkanmu
di semesta neraka atau surga
pada diriku demikian adanya
juga pada milyaran manusia lainnya

Februari 11, 2008
BERDANSA DENGAN SEPI MALAM
berdansa dengan sepi
malam
di atas motor eks-kekasihmu
kita ukur lengang demi lengang
jalan
di bibir-bibir bandung remang
setengah lampu sadar dan pingsan
lilin-lilin malam
bandung
seperti kerlip kunang-kunang
yang menggoda kupu-kupu
singgah di rumputan taman

ada jari-jari lembut dedaunan
dan hamparan hangat embun
diterangi bulan

ada pintu kamar terbuka
di sudut surga
bagi mereka, pejalan larut
juga bagi gelandang kesiangan
untuk berdansa
dengan sepi malam
yang kian menerbar aroma
temaram
di atas ranjang kelam

ajarkanlah jalan ini satu masa
pada anak-anak kita
bahwa
dengan sepi malam,
lelaki hanya boleh berdansa
tidak untuk jatuh cinta

POHON NABI
semalam terakhir, kau beri tik merah di kalender usiamu kau panjati
pohon nabi dipucuknya yang mengapung di lautan gurun tua janda kaya
menggiurkan pantatnya tawa merekahkan giginya tawamu seperti sabda
sunyi di balik dedaunan itu waktu adalah angin yang datang dan pergi
meninggalkan aroma misteri oase yang tumbuh dewasa di bawah butiran
pasir seperti tersisir kau sudah melihat pucuk tertinggi pohon nabi
di mana tuhan adalah pintu bagi segala kemungkinan yang tak bisa
dikira atau sekedar diraba mungkin dia bersila seraya memejamkan
mata mungkin dia tak berkaki atau bermata mungkin dia tengah bicara
kepada malam dan bulan mungkin dia tak berlidah atau pita suara
mungkin dia sedang memetik harpa mungkin juga dia tak berjari atau
bertangan kau cuma menduga di pucuk itulah layaknya kau menundukkan
kepala dan menuntaskan dahaga

DUA MENARA LANGIT
/1/

aku durhaka halaman ke halaman buku

filsafat dan agama yang kubaca,

bermula dari angin yang datang dari selatan

bertiup kencang merontokkan

daun-daun rasa yakinku,

akan pertumbuhan lingkar tahun

pada cangkang mimpi musim dingin

mendatang

akarku ingin meresap hara

cadangan

betapa menggelikan mimik batangku

bagi orang-orang kerdil penjaja hidup

sedampar pulau kue serabi basi

yang sejenak melepas butir keringat

di bawah cabang-rantingku

di terminal pulau gadung,

pagi yang buntu melempar

oksigen segar

jauh ke kumpulan kepulauan

seribu

seperti badut tanpa kostum dan pentas lagi,

bolak-balik, kuhitung helai demi helai pucuk daun hijau

yang di ujung tahun ini, terpasung di ketiak dahanku

nomor sim card handphone soni ericson silver,

kau tanam tepat 2 meter dari pusat akar tunjangku

tiga tahun yang lalu

beberapa bulan dari hulu

bagaimanapun, pada diriku kukatakan,..

" tak apalah

semua ini karena mereka manusia biasa

seperti mereka, memandangimu

penuh tanda tanya

di pinggiran sawah sukabirus

dayeuh kolot sana"

namun masih saja ada yang menggaris bawahi baris-baris

kalimat yang hurufnya dicetak tebal di buku jam ini,

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/2/

aku benahi lagi letak ranting, cabang dan daun

yang membelakangi matahari

aku tidak bisa berpindah tempat

atau sedikit manuver pesawat

seperti burung gereja lusuh

yang pagi ini entah dari mana datangnya

bersama enam kawannya

liar berkicau di sela rerimbunan daunku

yang meronta

kiranya mereka tengah membangun sarang

bagi musim kawin bulan mendatang

percuma menanyakan kesopanan mereka

pada tuan rumah yang mereka pinjam

kamarnya

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/3/

Angin kembali menggulung daun-daun rentaku

bernafas, tumbuh, dan hidup di daerah sekasar

pulo gadung

tidak hanya membuatmu waspada kepada angin saja

air kencing manusia, tahi burung-burung

kerak hujan dan guntur

dan air bah yang menyimpan kampak

di belakang tubuhnya

adalah mimpi-mimpi sumbang

sebelum dinas kota

memperbaiki pagar pengaman

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/4/

air mantra yang mengalir deras dalam pembuluh benakku

seperti air mata

para pengemis yang menadahkan tangan di atas kepalanya

di sela dua menara langit dengan pejaman mata

pada langit aku menutup pintu hujan sudah lama

karena kita cuma menyambit udara kosong saja

dalam dongeng dan pantun guru-guru agama manusia

tapi apalah air mata

hanya satu tandan pupuk renta

untuk alasan musim kemarau

sepintar matahari memperpanjang

lembar siang di tarian bayang-bayang

manusia masih saja hulu lalang

di atas akarku yang meranggas

dengan menyimpan api di kepala dada mereka

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/5/

aku curiga pada lift gedung bertingkat delapan belas itu

orang-orang berpakaian dasi berwajah monyet

bergelantungan di ranting-ranting pohon naluri uang

mengunyah-ngunyah dasi mereka

seperti pengemis yang keletihan

mengangkat tangannya

meminta-minta pada langit yang acuh

pada cibir tatapan orang yang mobilnya

sejenak berhenti di persimpangan lampu merah

seperti burung-burung gereja tolol ini

yang melahap daun-daun mudaku

untuk sarangnya

sebelum malam tiba

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/6/

tak ada yang membuatku berbeda sejauh metro mini

yang datang dan lima belas menit kemudian pergi

selain ceceran gelap yang kucari pada malam

bulan menyelamatkanku dari matahari dan manusia

dan burung-burung gereja itu menutup matanya

dalam kelelahan yang menjemukan

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

selain aku sendiri yang harus menggugurkan dahan dan daun

dalam hitungan seorang akuntan

STANCE (3)
Stik itu bersandar di dindingnya
Meja bertumpu di empat kakinya
Kursi dengan quartet tangannya
Bola-bola tenang dengan lengkung
Bundarnya
Kau: berdiri cukup dengan satu
kaki dada

sajak-sajak lain dan sajak ini
dapat ditemukan di kategori "sebotol malam"
di blog blalang_kupukupu
silakan bertamu aja
http://asharjunandar.wordpress.com

salam cipikacipiki
blalang_kupukupu

__._,_.___
Sekolah-Menulis Online Resmi Dibuka Lagi
Klik http://tinyurl.com/24k3ss untuk info selengkapnya
=============================================

=============================================
Situsnya Penulis! http://www.penulislepas.com :)
=============================================

Info penulisan terbaru, kiat penulisan, dll, GRATIS!
Klik saja http://newsletter.belajarmenulis.com/
===================================================

Peluang bisnis untuk penulis Indonesia?
Klik http://bisnis.penulislepas.com/
=============================================

Ikutan milis tanpa membuat email penuh?
Baca solusinya di http://jonru.multiply.com/journal/item/253

=============================================

Kalau mau keluar dari milis ini, kirim email kosong ke penulislepas-unsubscribe@yahoogroups.com. Setelah itu, tunggu email konfirmasi dari Yahoo! Groups. Balaslah email konfirmasi tersebut. Setelah itu, barulah keanggotaan anda terhapus.
=============================================


Recent Activity
Visit Your Group
Star Wars on Y!

Discover new content

Connect with other

fans & upload video.

Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

.

__,_._,___